Selasa, 07 Februari 2012

FUNGI (JAMUR)

FUNGI (JAMUR)

A.    SEJARAH KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP
Klasifikasi ilmiah menunjuk ke bagaimana ahli biologi mengelompokkan dan mengkategorikan spesies dari organisme yang punah maupun yang hidup. Klasifikasi modern berakar pada sistem Carolus Linnaeus, yang mengelompokkan spesies menurut kesamaan sifat fisik yang dimiliki. Pengelompokan ini sudah direvisi sejak Carolus Linnaeus untuk menjaga konsistensi dengan asas sifat umum yang diturunkan dari Darwin. Untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup secara keseluruhan tidak mudah sehingga dibuat klasifikasi (pengelompokan) makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup adalah suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu. Urutan klasifikasi makhluk hidup dari tingkat tertinggi ke terendah (yang sekarang digunakan) adalah Domain (Daerah), Kingdom (Kerajaan), Phylum atau Filum (hewan)/Divisio (tumbuhan), Classis (Kelas), Ordo (Bangsa), Famili (Suku), Genus (Marga), dan Spesies (Jenis).
Tujuan klasifikasi makhluk hidup adalah untuk mempermudah mengenali, membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup. Membandingkan berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup yang memliliki ciri yang sama dikelompokkan dalam satu golongan. Contoh klasifikasi makhluk hidup adalah:
  • Berdasarkan ukuran tubuhnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi pohon, perdu, dan semak.
  • Berdasarkan lingkungan tempat hidupnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tumbuhan yang hidup di lingkungan kering (xerofit), tumbuhan yang hidup di lingkungan air (hidrofit), dan tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab (higrofit).
  • Berdasarkan manfaatnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tanaman obat-obatan, tanaman sandang, tanaman hias, tanaman pangan dan sebagainya
  • Berdasarkan jenis makanannya. Contoh: Hewan dikelompokkan menjadi hewan pemakan daging (karnivora), hewan pemakan tumbuhan (herbivora), dan hewan pemakan hewan serta tumbuhan (omnivora).
Cara pengelompokan makhluk hidup seperti ini dianggap kurang sesuai yang disebabkan karena dalam pengelompokan makhluk hidup dengan cara demikian dibuat berdasarkan keinginan orang yang mengelompokkannya.
Semula para ahli hanya mengelompokkan makhluk hidup menjadi 2 kerajaan, yaitu kerajaan tumbuhan dan kerajaan hewan. Dasar para ahli mengelompokkan makhluk hidup menjadi 2 kerajaan :
  1. Kenyataan bahwa sel kelompok tumbuhan memiliki dinding sel yang tersusun dari selulosa.
  2. Tumbuhan memiliki klorofil sehingga dapat membuat makanannya sendiri melalui proses fotosintesis dan tidak dapat berpindah tempat dan hewan tidak memiliki dinding sel sementara hewan tidak dapat membuat makanannya sendiri, dan umumnya dapat berpindah tempat.
Namun ada tumbuhan yang tidak dapat membuat makanannya sendiri, yaitu jamur (fungi). Berarti, tumbuhan berbeda dengan jamur maka para ahli taksonomi kemudian mengelompokkan makhluk hidup menjadi tiga kelompok, yaitu Plantae (tumbuhan), Fungi (jamur), dan Animalia (hewan).
Setelah para ahli mengetahui struktur sel (susunan sel) secara pasti, makhluk hidup dikelompokkan menjadi empat kerajaan, yaitu Prokariot, Fungi, Plantae, dan Animalia, Pengelompokan ini berdasarkan ada tidaknya membran inti sel. Sel yang memiliki membran inti disebut sel eukariotik, sel yang tidak memiliki membran inti disebut sel prokariotik.
Pada tahun 1969 Robert H. Whittaker mengelompokkan makhluk hidup menjadi lima kingdom, yaitu Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Pengelompokan ini berdasarkan pada susunan sel, cara makhluk hidup memenuhi makanannya, dan tingkatan makhluk hidup.
Namun sistem ini kemudian diubah dengan dipecahnya kingdom monera menjadi kingdom Eubacteria dan Archaebacteria. Pada tahun 2004, seorang ilmuwan, Thomas Cavalier-Smith mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi k Kingdom juga, namun dengan memisahkan Eukaryota dari Protista yang bersifat autotrof menjadi Kingdom baru, yaitu Chromista. 6 Kingdom menurut Klasifikasi Cavalier-Smith, yaitu Bacteria, Protozoa, Chromista, Fungi, Plantae, Animalia. Walaupun sekarang Indonesia sedang berusaha mengadaptasikan klasifikasi Domain, namun klasifikasi menurut ketentuan terakhir (yang terbaru) adalah klasifikasi Cavalier-Smith ini.
B.     KLASIFIKASI FUNGI
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel-sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif. Berdasarkan hifa serta cara berkembangbiak, jamur dikelompokkan menjadi 5 kelompok (O-Z-A-B-D)
1.      Subdivisi Oomycota
2.      Subdivisi Zygomycota
3.      Subdivisi Ascomycota
4.      Subdivisi Basidiomycota
5.      Subdivisi Deuteromycota
Keterangan:
-          No 1 dan 2 tidak bersekat
-          No 3 s/d 5 hifanya bersekat
-          No 1 s/d 4 berkembang dengan cara vegetatif dan generatif dengan membentuk spora generatif yaitu : Oospora,Zygospora,Ascospora dan Basidiospora) sedang vegetatifnya denga konidiospora
-          No 5 Deuteromicotina hanya vegetatif saja maka sering disebut dengan Fungi Imperfectii (jamur tidak sempurna karena hanya berkembang vegetatif saja dengan konidiospora

1.      Oomycota
a.       Ciri-ciri
Ciri-ciri jamur yang termasuk golongan Oomycotina adalah sebagai berikut.
1)      Hifa tidak bersekat
2)      Reproduksi aseksual dengan zoospora yang mempunyai dua flagel
3)      Reroduksi seksual dengan bersatunya gamet betina dan gamet jantan membentuk oospora (sel telur yang telah dibuahi membentuk dinding yang tebal) kemudian memasuki periode istirahat.
b.      Klasifikasi
Oomycota terbagi menjadi satu kelas yaitu Phycomycetes dengan ciri yang dipunyai ialah tidak adanya septum di dalam hifa, ciri ini membedakannya dari anggota-anggota kelas Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Deuteromycetes. Jenis jamur yang termasuk Oomycotina adalah Saprolegnia sp, Phytophtora sp, dan Phytium sp.


c.       Reproduksi

Gambar siklus hidup Phytoptora

Hifa pada jamur ini bersifat senositik, yaitu tidak bersekat-sekat sehingga inti sel banyak tersebar di dalam protoplasma. Dinding selnya tersusun atas selulosa, hal inilah yang membedakan dengan golongan jamur lainnya. Pertumbuhan hifa jamur terjadi pada bagian ujungnya yang menghasilkan beberapa percabangan. Pada akhir ujung percabangan itu terbentuk gelembung sporangium yang dipisahkan oleh sekat.
Hal ini merupakan awal perkembangbiakan jamur secara tidak kawin (aseksual). Dalam sporangium terdapat protoplasma yang banyak mengandung inti sel. Protoplasma akan terbagi-bagi dan setiap bagian memperoleh satu inti sel yang berkembang menjadi spora dengan dua flagel sebagai alat geraknya. Spora yang mempunyai flagel disebut zoospora yang merupakan ciri khas Oomycotina. Selanjutnya, zoospora akan keluar dari sporangium kemudian melepaskan flagelnya sambil membentuk dinding selulosa. Jika zoospora ini sampai di tempat yang sesuai, maka akan menjadi tumbuh hifa baru.

d.      Peranan
Saprolegnia sp. hidup saprofit pada bangkai ikan, serangga darat maupun serangga air. Phytophora infestans penyebab penyakit busuk pada kentang.

2.      Zygomycota
a.       Ciri-ciri
1.      Biasa hidup sebagai saprofit
2.      Miselium bercabang banyak dan hifa tidak bersekat sehingga terlihat seperti pipa atau buluh
3.      Dinding sel terdiri atas kitin, tidak memiliki zoospora sehingga sporanya merupakan sel-sel yang berdinding. Spora inilah yang tersebar ke mana-mana
4.      Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan spora yang berasal dari sporangium yang telah pecah. Beberapa hifa akan tumbuh dan ujungnya membentuk sporangium. Sporangium berisi spora. Spora yang terhambur inilah yang akan tumbuh menjadi miselium baru
5.      Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan peleburan dua hifa, yaitu hifa betina dan hifa jantan. Hifa jantan adalah hifa yang memberikan isi selnya. Hifa betina adalah hifa yang menerima isi selnya. Perkembangbiakan ini dilakukan dengan gametangium yang sama bentuknya (hifa jantan dan hifa betina) yang mengandung banyak inti. Selanjutnya, gametangium mengadakan kopulasi.




b.      Struktur Tubuh


Gambar struktur tubuh Rhizopus sp.
Jamur ini dinamakan Zygomycota karena membentuk spora istrahat berdinding tebal yang disebut zigospora. Zigospora merupakan hasil peleburan menyeluruh antara dua gametangium yang sama atau berbeda. Jamur yang tergolong divisi ini hidup di darat, di atas tanah, atau pada tumbuhan dan hewan yang telah membusuk. Stuktur tubuh Zygomycota memiliki miselium yang bercabang banyak dan tidak bersekat-sekat dengan dinding sel mengandung kitin. Hifanya bersifat senositik. Septa hanya ditemukan pada sel-sel bereproduksi. Tubuh zygomycota. Bagian tertentu dari zygomycota membentuk sporagium yang didukung sporangiofor. Sporagium adalah struktur penghasil spora vegetatif. Alat reproduki seksual adalah zigosporagium yang berdinding tebal dan berwarna kehitaman. Zigomycota tidak memiliki tubuh buah.


c.       Reproduksi
Zygomycetes dapat bereproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual adalah dengan spora yang dihasilkan oleh sporangium. Reproduksi seksualnya secara konjungsi. Cabang pendek Rhizopus yang berjenis positif dan cabang pendek yang berjenis negative bertemu pada ujungnya. Setelah bertemu akan terbentuk sekat didinding dibawah ujung cabang hifa. Gamet dari kedua rhizopus kemudian bertemu dan melebur membentuk zigot. Zigot mempunyai dinding pelindung yang tebal kemudian zigot memasuki periode dormansi. Dormansi biasanya berlangsung selama 1 sampai 3 bulan. Setelah periode dormansi zigot berkecabah. Saat berkecambah, inti sel zigot melakukan meiosis, kemudian hifa haploid pendek tumbuh dari zigot. Hifa haploid segera membentuk sporangium yang akan memproduksi spora aseksual. Setelah dibebaskan dari sporangium, spora aseksual akan membentuk miselium baru



Gambar: Repoduksi seksual dan aseksual pada Rhizopus sp.
d.      Peranan
1)      Rhizopus nigricans (Jamur Roti ), jika roti yang lembab disimpan ditempat yang hangat dan gelap, beberapa hari kemudian akan tampak jamur tumbuh diatasnya. Pada roti akan tumbuh bulatan hitam, yang disebut Sporangium
2)      Rhizopus Stolonifer ( Jamur Tempe), jamur tempe digunakan dalam pembuatan tempe.
3.      Ascomycota
a.       Ciri-ciri
Anggota-anggota kelas ini dicirikan oleh pembentukan askus yang merupakan tempat dihasilkannya askospora. Kebanyakan hidup sebagai saprofit. Banyak khamir tergolong kelas ascomycetes  karena membentuk askospora. Secara aseksual, genus khamir ini memperbanyak diri melalui pembelahan biner melintang. Reproduksi aseksual pada Ascomycota berfilamen adalah pembentukan konidia dalam jumlah besar.
b.      Klasifikasi
Ascomycota terbagi menjadi tiga kelas berdasarkan macam-macam bentuk askusnya yaitu,
1.      Hemiascomycetes
Kelompok jamur ini tidak membentuk askokarp, tidak mempunyai hifa, tubuhnya terdiri dari sel bulat dan oval yang dapat bertunas sehingga membentuk rantai sel atau hifa semu. Contohnya khamir Saccharomyces cereviceae (digunakan untuk membuat roti, anggur dan bir)
2.      Plectomycetes
Kelas ini bercirikan adanya askokarp berbentuk bola yang disebut kleistotesium. Kelompok ini ada yang saproba, parasit atau hiperparasit.
3.      Pyrenomycetes
Ciri khas yang dimiliki adalah askokarp berbentuk khusus yang dilengkapi dengan ostiolum. Tubuh buah seperti itu disebut peritesium yang dapat berwarna cerah atau gelap. Contohnya Neurophora sitophila banyak digunakan untuk membuat oncom merah dari ampas tahu atau bungkil kacang tanah.

c.       Struktur tubuh


Gambar struktur tubuh Ascomycetes
Bentuk askus ada bermacam-macam, antara lain:
1.      Askus tanpa askokarp
2.      Askus yang askokarpny berbentuk deperti mangkok disebut aposetium.
3.      Askus yang askokarpnya berbentuk bola tanpa ostiulum disebut kleistotesium.
4.      Askus yang askokarpnya berbentuk botol dengan leher dan memiliki ostiulum disebut peritesium.

d.      Reproduksi

Gambar reproduksi Ascomycetes
Reproduksi vegetatif dilakukan dengan fragmentasi, pembelahan sel, pembentukan tunas. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembentukan konidium membentuk konidiospora, yaitu spora yang dihasilkan secara berantai pada ujung suatu hifa. Membentuk askus yang menghasilkan askospora

e.       Peranan
1.      Sacharomyces cerevisae sehari-hari dikenal sebagai ragi berguna untuk membuat bir, roti maupun alkohol karena mampu mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2 dengan proses fermentasi.
2.      Neurospora sitophila jamur oncom.
3.      Peniciliium notatum dan Penicillium chrysogenum penghasil antibiotika penisilin.
4.      Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti berguna untuk mengharumkan keju.
5.      Aspergillus oryzae untuk membuat sake dan kecap.
6.      Aspergillus wentii untuk membuat kecap
7.      Aspergillus flavus menghasilkan racun aflatoksin hidup pada biji-bijian dimana aflatoksin adalah salah satu penyebab kanker hati

4.      Basidiomycota
a.       Ciri-ciri
Basidiomycota dicirikan oleh adanya basidiospora yang terbentuk diluar pada ujung atau sisi basidium, sebagian besar makroskopis dan sering dijumpai di tanah dan di hutan. Ciri utamanya ialah hifa septat dengan sambungan apit, spora seksualnya terbentuk pada basidio yang berbentuk ganda.
b.      Klasifikasi
Basidiomycota terdiri dari satu kelas yaitu Hymenomycetes dengan ciri-ciri berdaging, saproba, tubuh buah seperti payung, tetapi pada beberapa spesies tangkainya asimetris, pendek bahkan tidak bertangkai.
c.       Struktur tubuh

Gambar struktur tubuh Basidiomycetes

1.      Tudung (pileus), merupakan bagian yang ditopang oleh stipe dan di bagian bawahnya mengandung bilah-bilah. Pada jamur muda, pileus dibungkus oleh selaput (vileum universal) dan menjelang dewasa pembungkus tersebut akan pecah
2.      Bilah (lamella/gills), merupakan bagian di bawah tudung berbentuk helaian berbilah-bilah.
3.      Tangkai tubuh buah (stipe) merupakan massa miselium yang sangat kompak dan tumbuh tegak
4.      Cincin / Annulus, merupakan bagian yang melingkari tangkai yang berbentuk seperti cincin
5.      Volva, merupakan bagian sisa pembungkus yang terdapat pada dasar tangkai

d.      Reproduksi

Gambar reproduksi Basidiomycetes
Daur hidup Basidiomycota dimulai dari pertemuan spora basidium atau pertumbuhan konidium. Spora basidium atau konidium akan tumbuh menjadi benang hifa yang bersekat dengan satu inti kemudian hifa membentuk miselium. Hifa dari dua strain yang berbeda (+ dan -) ujungnya yang bersinggungan pada dinding selnya larut. Inti sel dari salah satu sel pindah kesel yang lain terjadilah sel dikariotik. Dari sel dikariotik akan tumbuh hifa dan miselium dikariotik, miselium dikariotik akan tumbuh menjadi tubuh buah dengan bentuk tertentu misalnya seperti payung.
e.       Peranan
Contoh jamur Basidiomycetes yang berperan bagi manusia adalah
1.      Volvariella volvacea, jamur merang, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan
2.      Auricularia polytricha, jamur kuping, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan
3.       Exobasidium vexans, parasit pada pohon teh penyebab penyakit cacar daun teh atau blister blight.
4.      Amanita muscaria dan Amanita phalloides, jamur beracun, habitat di daerah subtropics
5.       Ustilago maydis, jamur api, parasit pada jagung.
6.      Puccinia graminis, jamur karat, parasit pada gandum

5.      Deuteromycota
Divisi ini disebut juga fungi imperfecti karena belum diketahui adanya reproduksi seksual, hifa septat atau uniseluler. Kebanyakan anggotanya mempunyai kekerabatan dengan Ascomycotina, beberapa Basidiomycotina. Spesies yang sudah jelas reproduksi seksualnya dikeluarkan dari divisi ini
Ciri-ciri
1.      Hifa bersekat
2.      Jamur ini biasa disebut jamur tidak sempurna atau jamur imperfecti karena reproduksinya hanya secara asexual
3.      Berkembangbiak secara aseksual dengan fragmentasi atau dengan konidium dengan membentuk konidiospora, perkembangbiakan seksual belum diketahui
            Spora aseksual yang berfungsi untuk menyebarkan spesies dibentuk dalam jumlah besar. Ada banyak macam spora aseksual.
  1. konidiospora atau konidium. Konidium yang kecil dan bersel satu disebut mikrokonidium. Konidium yang besar lagi bersel banyak diamakan makrokonidium. Konidium dibentuk diujung atau disisi suatu hifa
  2. sporangiospora. Spora bersel satu ini terbentuk didala kantung yang disebut sporangium diujung hifa khusus (sporangiofor). Aplanospora ialah sporangispora nonmotil. Zoospora ialah sporangiospora yang motil, motilitasnya disebabkan oleh adanya flagelum.
  3. oidium atau  artrospora. Spora bersel satu ini terbentuk karena terputusnya sel-sel hifa.
  4. klamidospora. Spora bersel satu yang berdinding tebal ini sangat resisten terhadap keadaan yang buruk. Terbentuk  dari sel-sel hifa somatik.
  5. blatospora. Tunas atau kuncup-kuncup pada sel-sel khamir disebut blastospora.


Gambar macam-macam bentuk spora aseksual
Jamur Oncom sebelum diketahui pembiakan generatifnya dinamakan Monilia sitophila tetapi setelah diketahui pembiakan generatifnya yang berupa askus namanya diganti menjadi Neurospora sitophila dimasukkan ke dalam Ascomycotina.
Banyak penyakit kulit karena jamur (dermatomikosis) disebabkan oleh jamur dari golongan ini, misalnya Epidermophyton fluocosum penyebab penyakit kaki atlit, Microsporum sp. Trichophyton sp. penyebab penyakit kurap.

C.    MIKORIZA

            Jamur yang hifanya bersimbiosis dengan suatu tanaman disebut mikoriza. Jamur tersebut biasanya dari golongan Zygomycotina, Ascomycotina, atau Basidiomycotina. Ada dua tipe mikoriza yaitu
  1. Ektomikoriza
Jamur ini tubuh buahnya seperti payung, bola atau bulat, hifanya hanya menembus epidermis akar saja tidak sampai menembus korteks. Jamur ini tidak dapat tumbuh dengan bereproduksi tanpa bersimbiosis dengan akar tumbuhan inangnya.
  1. Endomikoriza
Jamur ini bersimbiosis pada akar yang hifanya menembus sampai pada sel-sel korteks. Terdapat pada akar tanaman anggrek, kol, bit dan pada berbagai pohon. Endomikoriza hidup tanpa bersimbiosis dan terdapat pada berbagai jenis pohon, pada tanah dan tidak memiliki inang khusus.











       KESIMPULAN

1.      Jamur adalah organisme heterotrofik, mereka memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya.
2.      Jamur sangat beragam ukurannya, berkisar antara 1 sampai 5 um lebarnya dan panjangnya dari 5 sampai 30 um atau lebih. Talus atau tubuh dapat tersusun atas sel-sel yang lepas satu sama lain.
3.      Ada tiga macam morfologi hifa Aseptat atau senosit, Septat dengan sel-sel uninukleat, dan Septat dengan sel-sel multinukleat.
4.      Jamur dapat dibedakan menjadi 5 divisi yaitu : Phycomycota, Zygomycota,  Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycetes.
5.      Alat reproduksi berupa gametangium sebagai penghasil gamet jantan dan betina. Sporangium sebagai penghasil spora seksual dan spora aseksual.
6.       Cara reproduksi generatif  dengan peleburan dua buah gamet  dan secara vegetatif dengan spora, fragmentasi (pemisahan), membelah diri dan tunas (budding).
7.      Beraneka jenis jamur pun dapat dikonsumsi, contohnya, jamur kuping dan jamur merang. Jamur-jamur tersebut dapat dijadikan sop jamur atau beraneka masakan. Selain itu, jamur juga banyak dimanfaatkan untuk bahan membuat obat.







Daftar Pustaka


Fuad. 2011. Basidiomycota. (Online). http://fuadbioholic.blogspot.com diakses pada 28 November 2011
Ghar, W.R. 2009. Klasifikasi Jamur. (Online). http://wrghar.blogspot.com diakses pada 28 November 2011
Pelczar, Michael. 2009. Dasar-dasar mikrobiologi Jilid 1. Jakarta: UI press.
Pissa, Norra. 2011. Penjelasan Kingdom Fungi. (Online). http://norrapissa.blogspot.com diakses pada 28 November 2011
Pratiwi, dkk. 2004. Buku Penuntun Biologi SMA Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Widyawati, Tri Mei. 2011. Ascomycota. (Online). http://ascomicota4.blogspot.com/ diakses pada 28 November 2011
Yugi. 2010. Ciri-ciri jamur. (Online). http:// id.shvoong.com diakses pada 02 November 2011
Yuni, Zahara. 2009. Zigomycota. (Online) http://zigomicotakelompok4.blogspot.com/ diakses pada 30 Oktober 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar